Sejarah Indonesia

MALAKA DAN PORTUGIS: Dari Tempat yang Membanggakan Hati Menjadi Sesuatu yang Tak Begitu Berarti

Oleh: Saka Mukhamad

 

“…tiada satupun bandar niaga yang sedemikian besarnya seperti Malaka. Barang-barang dagangan dari seluruh dunia timur dijual di sini. Bila musim angin Muson berakhir anda dapat memperoleh barang yang anda butuhkan dan kadangkala melebihi apa yang anda cari.” 

– Tome Pires

 

Sejarah penaklukan Portugis atas Malaka yang seringkali dianggap sebagai langkah awal dimulainya periode kolonialisme di Nusantara merupakan tahap lanjutan pelayaran Portugis atas ambisi pencarian emasnya.

 

Portugis memang memulai pelayaran mereka dengan berbagai ambisi seperti; Gold (keuntungan), Glory (Kejayaan), dan Gospel (agama). Namun dalam banyak hal, pertentangan mereka dengan kaum Muslim menjadi pendorong tersendiri bagi pelayaran mereka. Selama berabad-abad mereka (Portugis) telah berperang dengan orang “Moor” di negeri mereka sendiri. Setelah berhasil mengusir penguasa Muslim terakhir dari negeri mereka, mereka pun mencoba meneruskan kemenangan mereka dengan menyerbu Afrika Utara. Di sini mereka mendapatkan perlawanan yang gigih. Lantas, mereka pun mencoba menyerang benteng kaum Muslim ini dari belakang; dengan berlayar menyusuri pantai barat dan pantai selatan Afrika. Usaha ini pada akhirnya membawa mereka ke tempat yang lebih jauh dari yang mereka semula niatkan.

 

Pada tahun 1487, Bartholomeus Diaz mengitari Tanjung Harapan dan dengan demikian Portugis telah berhasil memasuki Samudera Hindia. Vasco da Gama melanjutkan ambisi pelayaran tersebut dan mencapai pantai India pada musim semi tahun 1498. Bagaimanapun juga, Portugis segera menyadari akan pentingnya wilayah tersebut sebagai jalur perdagangan Asia yang membawa komoditas berharga bukan hanya bagi Eropa, namun juga bagi wilayah-wilayah kaum Muslim di tanah Arab. Maka segera dimulailah usaha untuk menaklukkan India sebagai salah satu jalan memutus semua pelayaran Arab antara Mesopotamia dan India serta menguasai jalur perdagangan Asia. Orang yang paling bertanggung jawab atas usaha itu adalah Alfonso de Albuquerque.

 

Pada tahun 1503 Albuquerque memulai pelayarannya menuju India dan pada tahun 1510, dia berhasil menaklukkan Goa di pantai barat India yang kemudian menjadi pangkalan tetap Portugis. Selanjutnya, untuk mendominasi perdagangan laut di Asia, Portugis mencoba membangun pangkalan-pangkalan tetap di tempat-tempat yang strategis untuk mendukung teknologi militernya yang tinggi.

 

Tak berlangsung lama setelah penaklukannya atas wilayah-wilayah di India, Portugis mendapatkan berbagai laporan dari para pedagang Asia mengenai suatu daerah pusat perdagangan di timur yang memiliki kekayaan yang sangat besar; Malaka. Maka segera disusunlah suatu rencana untuk menemukan Malaka.

 

Penaklukan Portugis Atas Malaka Tahun 1511

Pelayar Portugis pertama yang dikirim untuk menemukan Malaka bernama Diogo Lopes de Sequeira dengan tugas menjalin persahabatan dengan penguasanya dan menetap di sana sebagai wakil Portugis di wilayah sebelah timur India. Diogo sampai di Malaka pada tahun 1509. Pada awalnya, ia diterima dengan baik oleh Sultan Mahmud Syah (memerintah tahun 1488-1528). Namun, komunitas pedagang muslim internasional yang ada di Malaka meyakinkan Sultan Mahmud Syah bahwa Portugis merupakan ancaman yang besar bagi Malaka. Maka terjadilah perlawanan terhadap utusan Portugis oleh Sultan Mahmud Syah. Peristiwa itu memberi kesimpulan yang jelas seperti halnya yang terjadi di periode sebelumnya bahwa penaklukanlah satu-satunya cara yang terbuka bagi Portugis untuk menguasai Malaka.

 

Awal bulan April 1511, tak berselang lama dari sekembalinya utusan pertama Portugis dari Malaka, armada Portugis yang dipimpin oleh Albuquerque memulai pelayarannya ke Malaka. Armada tersebut berkekuatan kira-kira 1.200 orang dan tujuh belas atau delapan belas kapal. Armada yang mungkin lebih kecil daripada pasukan Malaka namun unggul dalam peralatan dan terutama organisasi militer.

 

Serbuan pertama Portugis tidak berhasil sepenuhnya. Beberapa pasukan sempat menolak untuk melancarkan serangan kedua. Iklim Malaka yang tidak sehat bagi orang Eropa adalah alasan bagus untuk mengundurkan diri karena tempat itu merupakan sarang demam. Namun Albuquerque tetap gigih dan menutup mulut penentangnya. Pada 10 Agustus 1511, Albuquerque memimpin armadanya menyerang Malaka untuk kedua kalinya dan berhasil menaklukan wilayah itu. Sultan Mahmud Syah pun terpaksa harus lari dan mencari perlindungan ke Pulau Bintan.

 

Malaka sendiri yang hanya mengandalkan senjata tradisional tentu sulit menandingi Portugis yang telah memakai senjata modern. Malaka banyak menggunakan senjata-senjata kecil yang mereka impor dari Siam dan Pegu, ditambah bola-bola besi meriam yang mereka impor dari Cina. Selain itu mereka juga memakai meriam yang mereka beli dari Kalikut, dimana senjata itu dibuat oleh dua orang pelarian dari Portugis di sana.

 

Sekarang Malaka adalah kota Portugis. Pintu masuk ke wilayah timur Nusantara; pulau rempah-rempah, kini lebih terbuka bagi Portugis. Permasalahan selanjutnya yang muncul adalah bahwa keberhasilan Portugis menguasai Malaka secara tidak langsung juga telah mengubah keseimbangan politik dan ekonomi serta jaringan perdagangan di Nusantara.

 

Johor dan Aceh berlomba-lomba mengalahkan satu sama lain dan juga mengalahkan Portugis dan dengan demikian menjadi pengganti Malaka yang sesungguhnya. Di dalam perdagangannya di Malaka, Portugis gagal memonopoli perdagangan Asia, yang artinya tidak ada lagi Malaka yang menjadi tempat dimana kekayaan Asia dapat saling dipertukarkan; tidak ada lagi suatu negara di Malaya yang dapat menjaga ketertiban di Selat Malaka dan membuatnya aman bagi perdagangan Asia. Sebaliknya, terjadinya penyebaran komunitas-komunitas dagang (yang sebelumnya berpusat di Malaka) ke beberapa pelabuhan. Begitulah Malaka berubah dari tempat yang membanggakan hati menjadi sesuatu yang tak begitu berarti.

 

Sumber:

Bernard H.M. Vlekke, Nusantara Sejarah Indonesia (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2016).

Cortesau Armando, The Suma Oriental of tome Pires, Vol II.

M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2007).

Notosusanto, dkk, Sejarah Nasional Indonesia Jilid II: zaman Kuno (Jakarta: Balai Pustaka, 2010).

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *