Man made the cars to take us over the road
Man made the train to carry the heavy load
Man made electric light to take us out of the dark
Man made the boat for the water, like Noah made the ark
This is a man’s, man’s, man’s world
But it wouldn’t be nothing, nothing without a woman or a girl
Sepenggal lirik dari James Brown yang berjudul It’s Man’s Man’s World yang dirilis tahun 1966 sejenak mengingatkan kita, pria memang memiliki kekuatan dan seakan-akan dapat melakukan hal yang tidak bisa dilakukan wanita, tapi itu semua tidak berarti apa-apa tanpa wanita.
Oleh: Tom Jones Malau
Raden Ajeng Kartini lahir di Jepara, Jawa Tengah pada tanggal 21 April 1879. Ia hanya sempat bersekolah sampai sekolah dasar. Keinginan untuk melanjutkan sekolah sampai ketingkat yang lebih tinggi tidak diizinkan oleh orangtuanya. Sesuai dengan adat istiadat yang berlaku pada waktu itu, setelah menamatkan Sekolah Dasar, seorang anak gadis harus menjalani masa pingitan sampai tiba saatnya untuk menikah. mereka tidak bebas bergerak, berbeda dengan keadaan kaum pria. (Album Pahlawan Bangsa, PT Sumber Widya, hal 43)
Menjadi seorang penulis dan aktivis feminis Jawa, Kartini adalah putri seorang bupati. Dia menerima didikan barat dan ketika beranjak dewasa dipingit untuk perkawinan. Walau demikian dia membuka sebuah sekolah di kediaman ayahnya di Jepara pada 1903 dan setelah menikah pada November tahun yang sama, terus mengelola sekolah tersebut di kediaman suaminya di Rembang. (Kamus Sejarah Indonesia. Komunitas Bambu 2012, Hal 220)

Kartini berdiri di sebelah kiri foto (bersandar)
Di sekolah yang ia dirikan diajarkan pelajaran menjahit, menyulam, memasak, dan lain-lain tanpa dipungut bayaran. Apa yang dilakukan Kartini kemudian ditiru oleh wanita-wanita ditempat lain. di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon, dan lain-lain bermunculan “Sekolah Kartini”.
Cita-cita dan dan perjuangan Kartini menghentak pergerakan nasional. Bagaimana mungkin seorang wanita yang dipingit memiliki visi yang jauh tentang masa depan bangsanya? Kartini tidak hanya berbicara atau menulis tentang etos kemajuan bagi kaumnya. Kartini juga telah melangkah dengan mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor Kabupaten Rembang. Kartinilah yang memberi inspirasi Wahidin Sudirohusodo untuk mendirikan Kartini Fonds sebagai cara membantu pendidikan kaum Bumiputera. Bahkan, tokoh politik etis seperti Van Deventer mendirikan Yayasan kartini untuk membantu pendidikan rakyat. (Kartini Pejuang dari Balik dinding Pingitan. Penerbit Cempaka Putih 2018, hal 42)
Dalam memorandumnya yang sangat terkenal kepada pemerintah kolonial, “didik orang Jawa!” (1903),dan surat-suratnya yang diterbitkan setelah dia wafat, yang berjudul Door duisternis tot licht: gedachten overn en voor het javaanse volk (Dari Gelap Menuju Terang: Pemikiran tentang dan atas nama rakyat Jawa, 1911) yang disunting oleh J.H Abendanon dan dengan kata pengantar oleh Louis Couperus. Buku ini diterjemahkan dalam bahasa Inggris sebagai Letters of a Javanese Princess (Surat-surat seorang Putri Jawa, 1964). Korespondensinya (surat-menyuratnya) penting karena menegaskan hak-hak wanita untuk mendapat pendidikan dan kebebasan dari poligami dan perkawinan di bawah umur. Royalti dari publikasinya surat-suratnya di Belanda membantu mendirikan sejumlah “Sekolah Kartini” yang memberi pendidikan kepada anak perempuan. (Kamus Sejarah Indonesia. Komunitas Bambu 2012, hal 221)
Hidupilah perjuangan Kartini sebagai perjuangan yang mermbuka mata kita semua bahwa wanita memiliki peran penting dimana peran tersebut haruslah disertai pendidikan. seperti lagu diatas yang berlirik This is a man’s, man’s, man’s world. But it wouldn’t be nothing, nothing without a woman or a girl.
Sumber
Wahjudi Djaja, Kartini Pejuang dari Balik dinding Pingitan. Penerbit Cempaka Putih 2018.
Album Pahlawan Bangsa, PT Sumber Widya. 2012
Robert Cribb dan Audrey Kahin, Kamus Sejarah Indonesia. Komunitas Bambu 2012.

