Sejarah Indonesia

Kerajaan Kutai ; Dibesarkan Lewat Kerja Keras Peneliti

Oleh Tom Jones

Keberadaan kerajaan Kutai ditegaskan oleh penemuan Yupa (tugu batu persembahan) yang diketemukan di Muara Kaman. Peninggalan ini diteliti dan ditemui berasal dari masa antara abad 4 M dan awal abad 5 M, menyebutkan hadiah – hadiah tanah, ternak, emas dan lainnya oleh seorang raja bernama Mulavarman (dibaca Mulawarman) kepada para Brahmana (Pendeta) yang tinggal di pertapaan bernama Vaprakeswara. Ada beberapa situs (tempat) yang telah diidentifikasi sebagai tempat ditemukannya bukti-bukti sejarah untuk kerajaan Kutai,  diantaranya Kutai Lama, Muara Kaman, Kota Bangun dan Sebulu. (Paul Michel Munoz. Kerajaan – kerajaan awal kepulauan Indonesia dan semenanjung Malaysia, hal 126-127).

Salah satu yang menarik dari prasasti tersebut adalah pendiri keluarga Kerajaan (Wangsakarta) ialah Aswawarman dan bukan Kudungga yang dianggap sebagai raja pertama. Seperti yang tercatat dalam prasasti bahwa raja pertama adalah Kudungga, kedua Aswawarman dan ketiga Mulawarman. Jika kita perhatikan nama Kudungga (nama asli Indonesia) berbeda dengan keturunannya, ini yang menyebabkan Aswawarman (nama India) yang dituliskan sebagai pendiri keluarga kerajaan (Wangsakarta). Prasasti Yupa juga mencatat bahwa Mulawarman memberikan 20.000 ekor sapi. Disebutkannya juga nama Angsuman (di dalam prasasti), yaitu sebutan dewa matahari di dalam agama Hindu, memberikan kepastian pada kita bahwa setidak-tidaknya Mulawarman adalah penganut agama Hindu. (Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto. Sejarah Nasional Indonesia, hal. 38,39, 46)

Susunan masyarakat didalam Kerajaan Kutai setidaknya terdapat strata sosial berdasarkan keagamaan, golongan Brahmana yang dimana hanya golongan ini yang secara resmi  menggunakan Bahasa Sansekerta. Golongan berikutnya yaitu Kesatria yang terdiri dari keluarga Mulawarman, kemudian ada golongan Waisya yang merupakan golongan pedagang. Sedangkan dari pemukiman dalam hal ini pura hanya mengacu pada tempat tinggal Mulawarman, pura tersebut kemungkinan hanya sebatas dikelilingi oleh perumahan para Brahmana serta tempat-tempat yang dihuni oleh anggota garis keturunan keluarga kerajaan. Tidak jauh dari tempat itu terdapat tanah raja (parthiva) serta daerah-daerah yang dihuni para tetua desa.(Suwardono, Sejarah Indonesia Masa Hindu Buddha, hal.20)

 

Kerajaan Kutai tiba-tiba lenyap pada abad ke VI, hal ini berkaitan dengan ditaklukannya kerajaan Fu-nan (di daerah Vietnam) oleh kerajaan Chen-la. Fu-nan pada awal abad III sampai VI mendominasi kawasan Asia Tenggara, terutama Selat Malaka, dan memaksa menetapkan pajak yang tinggi untuk kawasan yang dikuasai, hal ini menyebabkan para pedagang menghindari Selat Malaka dan sampai di Kalimantan. Ketika Fu-nan ditakukan Chen-la, pedagang kembali pada Selat Malaka dimana muncul kerajaan Sriwijaya, dan Kutai di Kalimantan pun meredup. (Suwardono. Sejarah Indonesia Masa Hindu Buddha, hal 21-22)

 

Sumber

  1. Paul Michel Munoz, 2013. Kerajaan – kerajaan awal kepulauan Indonesia dan semenanjung Malaysia, Yogyakarta : Media Abadi
  2. Suwardono, 2013. Sejarah Indonesia Masa Hindu – Buddha, Yogyakarta : Penerbit Ombak
  3. Marwati Djoened Pusponegoro dan Nugroho Notosusanto, 2008. Sejarah Nasional Indonesia Jilid II, Jakarta : Balai Pustaka

 

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *