Oleh: Akbar Fuad
“Kalau tidak ada sungai Nil, pasti tidak ada Mesir, tidak ada peradaban, yang ada hanya gurun pasir.”
Jika kita amati, kehidupan penduduk di bagian tertentu di muka bumi ini pada periode zaman dahulu mengalami kehidupan yang berbeda; tertinggal atau berkemajuan mengapa terjadi keadaaan sedemikian rupa? kita dapat mengetahuinya dengan melihat lingkungan dimana mereka bertempat tinggal.
Salah satu lingkungan tempat tinggal yang menguntungkan yaitu terdapat sungai yang dapat memberi manfaat lebih bagi sekitarnya, sebab sungai merupakan salah satu pemasok air terbesar buat kebutuhan makhluk hidup, berbeda dengan penduduk yang bertempat tinggal daerah yang dingin atau tandus dan oleh sebab itu dapat dikatakan sungai adalah sebagai sumber kehidupan manusia dan makhluk lainnya.
Mesir memiliki sejarah panjang di masa lalu, Peradaban ini dimulai dengan unifikasi Mesir Hulu dan Hilir sekitar 3150 SM. Peradabannya diakui dunia sebagai salah satu peradaban yang paling maju yang pernah ada. Kokohnya Piramida dan kisah Firaun menjadi simbol betapa besarnya sejarah yang pernah terjadi di negeri yang dilewati Sungai Nil ini. Berkaitan tentang air sebagai sumber kehidupan, peranan sungai Nil begitu penting bagi lahirnya peradaban di lembah sungai tersebut. Sebelum munculnya peradaban, manusia hidup secara primitif dan tidak teratur.
Peradaban sendiri menurut KBBI adalah kemajuan (kecerdasan, kebudayaan) lahir batin atau hal yang menyangkut sopan santun, budi bahasa, dan kebudayaan suatu bangsa dan menurut ahli seperti Alfred Weber mengatakan bahwa peradaban adalah mengacu pada pengetahuan praktis dan intelektual, serta sekumpulan cara yang bersifat teknis yang digunakan untuk mengendalikan alam. Jadi secara sederhananya peradaban adalah cara bagaimana hidup. Dalam perjalannya wilayah – wilayah yang sudah mempunyai peradabannya sendiri mengembangkan karakteristik yang sama , seperti pemerintahan pusat, struktur sosial-ekonomi, bahasa , agama hingga budaya yang khas.
Berkah sungai Nil yang bersumber dari Pegunungan Kilimanjaro dan bermuara di Laut Tengah, memang paling banyak dinikmati bangsa Mesir, dari zaman awal mula peradaban hingga hari ini. Ukurannya jelas, kemakmuran Negara Bangsa yang dilintasi aliran Nil. Maka tepatlah jika Herodotus sebagai bapak sejarah menyebutkan bahwa “Mesir adalah hadiah sungai Nil” (Egypt is the gift of the Nile). Hal ini dikarenakan pola hidup bangsa Mesir menggantungkan diri pada Sungai Nil, apabila musim hujan mereka akan bercocok tanam dan apabila musim kemarau mereka akan menghindar. Tanaman yang mereka tanam antara lain: jelai, sekoi, gandum dan bahan-bahan sandang.
Keunggulan dari debit air sungai Nil yang berlimpah membuat membuat lahan pertanian yang ada di Mesir tumbuh sangat subur. Sungai Nil ibarat surga bagi Mesir yang beriklim kering dan panas. Saat salju meleleh dari pegunungan, sungai Nil meluap hingga batas ketinggian air. Pada saat meluap, Sungai Nil menyebarkan lumpur subur ke daratan. Sehingga tanaman pertanian berlimpah dan para petani membuat saluran-saluran irigasi ke lahan-lahan mereka. Orang-orang juga ada yang berternak semisalnya sapi, domba dan beberapa orang memelihara merpati.
Masyarakat Mesir yang hidup dari hasil bercocok tanam dan peternakan memiliki banyak waktu luang sehingga memanfaatkan hal tersebut untuk menambah pengetahuan tentang kehidupan yang lebih baik. Misalnya sebagai bangsa yang sudah bertani, Mesir kuno memberikan penemuan alat bajak yang ditarik ternak sebagai sebuah peninggalan yang tak hanya merevolusi cara pertanian masyarakat Mesir tapi juga ikut mempengaruhi cara bertani peradaban dunia lainnya. Dengan ditemukannya sistem bajak ini pengolahan tanah pertanian menjadi jauh lebih mudah dan lebih cepat dibandingkan dengan cara mencangkul tanah menggunakan tenaga manusia.
Pada masa perkembangannya masyarakat lembah Sungai Nil lambat laun memerlukan pemimpin dan sistem masyarakat yang lebih baik, maka dari itu asal mula gelar Firaun pun muncul. Hal ini terjadi karena tanah dan batas-batas tanah sangat penting dalam struktur masyarakat Mesir Kuno saat itu, maka diangkatlah tokoh masyarakat yang dihormati untuk mengatur batas-batas tanah dan segala hal yang menyangkut tata kehidupan masyarakat. Tetua masyarakat itu diberi gelar ‘pharaoh atau Firaun’. Segenap rakyat percaya bahwa raja Mesir pertama adalah jelmaan dari Dewa Matahari Ra. Maka semua keturunannya diyakini memiliki darah dewa yang suci dan berkuasa. Rakyat menganggap Firaun sebagai dewa yang hadir di bumi. Seluruh kekuasaan berada ditangannya baik sipil, militer maupun agama. Raja Firaun, ya dia adalah raja yang menguasai penuh atas negara yang setidaknya dalam teori dan memegang kendali atas semua tanah dan sumber daya yang berada di mesir kuno. Fir’aun merupakan komandan militer tertinggi serta kepala pemerintahan, yang bergantung pada birokrasi pejabat untuk mengurusi masalah-masalahnya.
Kedudukan Firaun diberikan secara turun-temurun. Agar kewibawaan dan kekuasaannya tetap kokoh, maka Firaun haruslah seorang yang pandai serta menguasai berbagai pengetahuan dan ketrampilan. Untuk itu, seorang calon Firaun harus belajar memerintah dengan bantuan pengawasan yang dilakukan oleh ayahnya. Cara yang umum dilakukan adalah menempatkan dan mendidik calon Firaun itu sebagai wazir atau Perdana Menteri atau pengawas pekerjaan umum. Sehingga setelah ayahnya meninggal, sang anak dapat langsung menduduki takhta kerajaan dan berperan sebagai orang yang ahli dalam bidang tata negara. Berikut adalah strata sosial Mesir kuno yang pertama adalah Firaun, kedua orang pemerintahan, bangsawan dan imam, ketiga tentara, keempat juru tulis , kelima pedagang, keenam pengrajin dan ketujuh petani dan budak.
Kelebihan Mesir yang mempunyai Sungai Nil yang subur dan indah , membuat kita takjub akan hubungan alam dan manusia yang harmoni, khususnya bangsa Mesir dalam memanfaatkan sebaik-baiknya Sumber Daya Alam (SDA) tersebut hingga pada akhirnya membentuk peradaban besar yang disegani dunia karena sumbangsihnya terhadap sistem tatanan pertanian, teknologi dan birokrasi yang unggul. Oleh sebab itu Sungai Nil dan Mesir tidak bisa dipisahkan mereka bagaikan sepasang dua insan yang saling menyayangi. Persis, isi bait-bait puisi karya penyair asal Amerika, Henry Abbey berikut ini yang berjudul Along the Nile , menggambarkan betapa damainya Mesir, dengan Sungai Nil yang mengalir tenang dan memberi penghidupan warganya. Dan tentu saja, merupakan pemandangan elok yang tak pernah habis nikmati oleh pelancong yang menyusurinya.
Kami menyusuri Nil hingga ke dermaganya,
airnya yang abadi tampak tersenyum,
tukang perahu berkulit gelap bernyanyi lirih,
perahu layar merentangkan sayapnya,
kami menangkap angin dan berlayar jauh,
Sepanjang hari hingga fajar hingga ke Timur,
di mana kehidupan pagi dan kebenaran lahir dengan suka-cita.
Along the Nile by: Henry Abbey (1842-1911)
Sumber:
George Willis Botsford, A Short History of the World (Yogyakarta: Alexander books , 2018).
Erwin Adi Putranto, Seri Peradaban Mesir Kuno (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2007).
Achadiati.S, Y, Indah Rimbawati, dan Ali Anwar, Sejarah Peradaban Manusia Zaman Mesir Kuno 1 (Jakarta: Multiguna CV, 1991).
Wirawan, Atlas sejarah Indonesia dan dunia ( Jakarta: Pori Media CV, 2013).
Philip Steele, Aku ingin Tahu Mengapa Orang Mesir Membangun Piramida dan Banyak Pertanyaan Lain Tentang Bangsa Mesir Kuno (Jakarta: Grolier International Inc, 2004).
https://kbbi.kemdikbud.go.id/
[1] Willis Botsford, George A Short History of the World, 1917
[2] https://kbbi.kemdikbud.go.id/
[3] Wirawan, Atlas sejarah Indonesia dan dunia, 2013 hal 103
[4] Adi Putranto,Erwin, Seri Perdaban Mesir Kuno, Semarang PT. Alfrin 2007 hlm. 33
[5] Steele, Philip. Aku ingin Tahu Mengapa Orang Mesir Membangun Piramida dan Banyak Pertanyaan Lain Tentang Bangsa Mesir Kuno. Trans. Joni Setiawan. London: Kingfisher Publications plc, 2003. Trans. Indonesia: PT. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia, Tbk, 2004. Hl.6
[6] Achadiati.S., Y, Indah Rimbawati, dan Ali Anwar. Seri Penerbitan Sejarah Peradaban Manusia Zaman Mesir Kuna 1. Jakarta: Multiguna CV, 199 hal 6

