Uncategorized

Matahari Terbit di Pulau Jawa: Ketika Jepang Menghancurkan Hindia Belanda Tahun 1942

Hindia Belanda runtuh. Begitulah setidaknya makna dari hasil Perundingan Kalijati antara Jepang dengan Belanda. Tak lama setelah tersiarnya berita penyerahan tanpa syarat tersebut, banyak orang di Bandung menyaksikan bagaimana perwira-perwira Belanda melepaskan kekecewaan mereka dengan melemparkan jas seragam militer, baju resmi dengan bintang emas di pinggir-pinggir jalan. Demikianlah Hindia Belanda yang sudah berpuluh-puluh tahun lamanya dikuasai oleh Belanda, dalam waktu beberapa bulan saja hancur dan diambil alih oleh Jepang.

Oleh Saka Mukhamad

Penyerangan terhadap Jawa dimulai dengan pertempuran di Laut Jawa pada tanggal 27 Februari 1942. Ketika itu kekuatan armada gabungan Belanda, Inggris, dan Australia di bawah pimpinan Laksamana Karel Doorman berhasil dihancurkan oleh pasukan Jepang. Sebagian kapal-kapal armada gabungan yang selamat kemudian melarikan diri ke Cilacap untuk selanjutnya pergi ke Australia dan Colombo.

Jepang sendiri mulai melakukan pendaratan di Jawa pada 1 Maret 1942 di bawah tentara ke-16. Pendaratan di Jawa dilakukan secara bersamaan di tiga tempat yakni di Banten (di Banten ada dua tempat yaitu di dekat Serang dan Merak), Eretan Wetan, dan Kranggan. Di Banten mendarat Divisi ke-2 bersama Jenderal Imamura beserta stafnya. Di Eretan Wetan, mendarat Kolonel Shoji dengan resimennya yang berdiri sendiri bersama personel darat dari Angkatan Udara yang disediakan untuk Kalijati. Sementara itu, di Kranggan, Jawa Timur, secara bersamaan mendaratlah Divisi ke-48 dan Brigade Sakaguchi.

Ketika Letnan Jenderal Imamura telah melakukan pendaratannya di Teluk Banten, di sana ternyata terdapat kapal-kapal perang Houston dan Perth. Kemudian terjadilah penembakan dari kapal perusak Sekutu ke kapal transpor Jepang. Satu kapal transpor Jepang pun tenggelam. Letnan Jenderal Imamura yang berada di kapal transpor tersebut pun menerjunkan diri ke laut sebelum kemudian mendarat di pesisir Teluk Banten. Ketika itu di tangannya ada beberapa perundang-undangan berisi penegasan bahwa Hindia Belanda sudah tidak ada lagi yang kelak diumumkan di Batavia pada tanggal 2 Maret. Kepulauan Hindia Belanda digabungkan dengan Jepang yang untuk masa selanjutnya menjadi bagian dari lingkungan bersama Asia Timur Raya.

Di tempat pendaratan lainnya, yakni di Eretan Wetan dekat Indramayu dan di Krangan, pesawat-pesawat Hindia Belanda juga melakukan serangan terhadap pasukan-pasukan Jepang tetapi tidak berarti apa-apa dan tidak menimbulkan banyak kerugian. Di Jawa Barat Letnan Jenderal Imamura mendaratkan satu divisi ditambah kesatuan-kesatuan artileri dan teknik, seluruhnya 30.000 tentara. Di Timur didaratkan tiga resimen dengan tentara artileri dan teknik, seluruhnya 20.000 tentara. Sementara itu di Indramayu didaratkan saru detasemen dan lain-lain berjumlah 5.000 orang. Satu hal yang menjadikan Jepang lebih unggul dari Sekutu adalah kekuatan angkatan udaranya mengingat Angkatan Udara Hindia Belanda sudah sangat lemah.

Di Eretan Wetan, Kolonel Shoji Toshinari berhasil mendarat di pantai dan kemudian dengan cepat melakukan serangan terhadap unit pertahanan pantai KNIL yang hanya terdiri dari 15 orang prajurit Jawa pimpinan Sersan E.A. Mahler. Di dalam pendaratan tersebut, pasukan Jepang harus kehilangan satu kapal pengangkut akibat serangan dari pesawat-pesawat pembom dan pemburu Sekutu yang berpangkalan di Kalijati dan Andir.

Setelah berhasil mendarat, Kolonel Shoji segera melakukan konsolidasi dan mengerahkan pasukannya menuju lapangan-lapangan terbang di Kalijati dan Cikampek serta memotong jalur perhubungan antara Batavia dan Bandung. Pada tengah hari, tentara Jepang kemudian berhasil merebut Subang dan terus mendesak ke barat menuju lapangan terbang Kalijati. Lapangan terbang Kalijati diserang oleh gabungan pasukan tank dan infanteri Jepang. Di dalam serangan tersebut, sekutu berhasil menyelamatkan dua pesawat terbang Hudson untuk terbang ke Andir. Tetapi Jepang berhasil mendapatkan 7 pesawat terbang Blenheim yang penuh dengan bom dan siap untuk diterbangkan. Selain itu gudang-gudang juga penuh dengan amunisi. Setelah Jepang berhasil merebut lapangan terbang Kalijati, para prajurit Inggris dan Belanda kemudian dieksekusi.

Mendengar berita mengenai jatuhnya Kalijati, markas besar KNIL di Bandung segera memerintahkan untuk melancarkan suatu serangan balasan untuk merebut kembali Kalijati yang memiliki lapangan strategis berjarak kurang lebih 40 km dari Bandung. Kesatuan yang menjadi tulang punggung dalam serangan tersebut adalah Mobiele Eenheid yakni kesatuan mobile yang merupakan bagian cadangan umum KNIL di bawah pimpinan Kapten G.J. Wulfhorst. Unit tersebut memiliki 24 tank ringan, empat kendaraan lapis baja, tiga meriam anti-tank kaliber 37mm, dan satu meriam gunung. Di dalam melakukan serangannya, unit tersebut juga mendapat dukungan dari Batalyon Infanteri ke-5 KNIL di bawah pimpinan Mayor C.G.J. Teerink.

Pada pukul 08.15 pagi tanggal 2 Maret 1942, serangan terhadap Detasemen Shoji di Subang untuk merebut kembali Kalijati dimulai. Serangan tersebut didahului oleh dua kendaraan lapis baja yang didukung oleh satu peleton infanteri yang mengendarai truk overvalwagen bergerak maju menuju posisi musuh. Namun, kendaraan pengangkut pasukan yang mengiringinya ternyata tidak dapat bergerak maju, untuk merebut kota dibutuhkan dukungan pasukan infanteri. Akibatnya, tank tersebut terpaksa mengundurkan diri.

Sementara itu gelombang infanteri KNIL lainnya bergerak menyusuri jalan raya dan sawah untuk memasuki Subang. Tetapi karena kurangnya pasukan infanteri dan tidak adanya dukungan udara serta mulai datangnya bala bantuan pasukan Jepang, akhirnya Belanda menghentikan serangannya. Di dalam serangan tersebut 14 orang prajurit tewas, 13 orang terluka, dan dua lainnya hilang. Selain itu, Belanda juga kehilangan 13 tank, satu kendaraan lapis baja, 5 truk overvalwagen, dan satu meriam anti-tank.

Keberhasilan Jepang mempertahankan Kalijati membuat seluruh pertahanan Belanda di Jawa Barat terancam hancur. Hal tersebut membuat Belanda harus menarik pasukannya yang berada di front lain untuk melindungi Bandung. Di Batavia, pertahanan Belanda dihadapkan dengan pasukan Imamura. Pada saat tengah malam antara tanggal 4 dan 5 Maret 1942, setelah membumihanguskan Pelabuhan Tanjung Priok dan sejumlah instalasi vital lainnya, pasukan Belanda mundur dari Batavia. Pada tanggal 5 Maret 1942, Batavia yang merupakan Ibukota Hindia Belanda lalu dinyatakan sebagai kota terbuka.

Sementara itu, mengenai pendaratan pasukan Jepang di Kragan (Jawa Tengah), setelah melakukan pendaratan, pasukan tersebut nantinya dipecah menjadi dua. Divisi di bawah Letnan Jenderal Yuitsu Tuchihasashi bertugas merebut Surabaya dan daerah Jawa Timur, sementara Detasemen Sakaguchi di bawah pimpinan Jenderal Sakaguchi bergerak ke Solo dan Malang serta merebut Cilacap guna menutup jalur pelarian pasukan Belanda.

Setelah pendaratannya di Kragan, pasukan Jepang di bawah Letnan Jenderal Yuitsu Tuchihasashi kemudian berhasil merebut Pelabuhan Rembang. Mereka kemudian bergerak menuju Cepu untuk menguasai ladang-ladang minyak terakhir Hindia Belanda. Tetapi ketika pasukan Jepang berhasil memasuki Cepu, Belanda telah membumihanguskan Cepu agar ladang-ladang minyak di Cepu tidak dapat digunakan oleh Jepang. Direbutnya Cepu oleh pasukan Jepang membuat hubungan kereta api antara Jawa Barat dan Jawa Timur di utara terputus. Kemudian untuk memutuskan hubungan antara Jawa Barat dan Jawa Timur di selatan, pasukan-pasukan Jepang berusaha menduduki Madiun.

Pada tanggal 5 Maret, pasukan Jepang telah berhasil menghantam pertahanan-pertahanan Belanda di Ngawi, Caruban, Nganjuk, Kertosono, Kediri, dan Jombang. Pada 7 Maret 1942, pasukan Jepang yang bergerak dari barat dan selatan tiba di Surabaya. Mayor Jenderal Ilgen segera memerintahkan pasukannya untuk menghancurkan berbagai instalasi vital di Surabaya. Setelah Surabaya dibumihanguskan, Mayor Jenderal Ilgen mengumpulkan pasukannya dan mengungsikan mereka ke Madura. Keesokan harinya Surabaya pun diduduki Jepang.

Sementara itu, pasukan Jepang di bawah pimpinan Jenderal Sakaguchi setelah mendarat di Kragan segera bergerak menuju Blora dan menguasai kota tersebut pada malam harinya. Pada 4 Maret 1942, Detasemen Sakaguchi berhasil menerobos pertahanan Sekutu di sebelah utara Purwodadi dan mengalahkan satu unit KNIL di dekat Solo. Kota Solo kemudian berhasil direbut oleh pasukan Jepang. Mereka kemudian bergerak ke Yogyakarta dan memaksa garnisun Belanda di daerah tersebut menyerah. Setelah pasukan Jepang berhasil merebut Yogyakarta, Detasemen Sakaguchi juga berhasil merebut Magelang, Salatiga, Ambarawa, Semarang, dan distrik-distrik lain di sekitarnya. Pada 8 Maret 1942, pasukan Jepang dari Detasemen Sakaguchi juga berhasil merebut Cilacap sehingga jalur hubungan terakhir antara Jawa dan Australia dan wilayah Sekutu lain pun tertutup. Pada akhirnya, kemenangan demi kemenangan terus didapatkan Jepang di Hindia Belanda. Kini, keruntuhan Hindia Belanda sudah tinggal menunggu waktu.

Kapitulasi Kalijati: Akhir dari Hindia Belanda

Hindia Belanda terus mengalami kekalahan di dalam usahanya melawan serangan dari Jepang. Hanya beberapa hari saja pasukan Jepang telah berhasil menduduki beberapa kota di Jawa. Pada tanggal 7 Maret 1942, Jepang sudah mengepung Bandung, benteng terakhir Belanda di Jawa. Kini, Belanda sudah tidak mungkin lagi mengadakan suatu perlawanan terhadap Jepang untuk menghindari pemboman atas kota Bandung. Jalan satu-satunya yang harus dilalui Belanda tentu melalui perundingan dengan pihak Jepang.

Upaya melakukan perundingan dengan pihak Jepang diberikan kepada Jenderal Jacob J. Pesman, panglima Distrik Bandung. Jenderal Pesman kemudian mengirim Kapten Gerharz ke arah Lembang untuk mencari kontak dengan Jepang. Akhirnya sekitar pukul 19.30, dia bertemu dengan pasukan Jepang dan dibawa ke markas Kolonel Shoji. Jenderal Imamura yang mendengar keinginan Belanda untuk menyerahkan kota Bandung segera melarang perundingan di bawah tangan Jenderal Pesman. Pihak Jepang kemudian mendesak agar Gubernur Jenderal maupun panglima KNIL secepat mungkin pergi ke Subang untuk berunding dengan Imamura sendiri. Apabila hal tersebut tidak dipatuhi, kekuatan udara Jepang akan menggempur Bandung habis-habisan.

Gubernur Jenderal dan pimpinan Hindia Belanda kini berada dalam keadaan yang sulit. Di satu pihak kabinet Belanda di London memerintahkan untuk tidak menyerah atas nama seluruh tentara di Hindia Belanda apapun yang terjadi dan di lain pihak terdapat ancaman dari pihak Jepang terkait pemboman atas Bandung. Jenderal Ter Poorten dalam keadaan ini kemudian memutuskan untuk menemui Jenderal Imamura di Subang. Sesampainya di Subang, Jenderal Ter Poorten bersama beberapa pejabat sipil dan militer Belanda kemudian diberitahu bahwa pertemuan dipindahkan ke Kalijati. Di Kalijati, Selanjutnya terjadilah perundingan yang alot antara Imamura dan van Starkenborgh. Setelah istirahat selama 10 menit, Imamura, yang sudah kehilangan kesabarannya memutuskan untuk tidak berbicara lagi dengan para diplomat dan ahli hukum, tetapi selanjutnya hanya akan berbicara dengan pihak militer Belanda saja yakni Ter Poorten. Tidak adanya van Starkenborgh di meja perundingan dimanfaatkan Imamura untuk menekan Jenderal Ter Poorten. Pada akhirnya, Ter Poorten kemudian menyetujui penyerahan total. Pada pukul 18.20, panglima KNIL tersebut menandatangani perjanjian penyerahan pasukan Belanda kepada Jepang.

Pada pukul 06.30 tanggal 9 Maret 1942, stasiun radio Nirom mengumumkan berita penyerahan atas nama panglima KNIL oleh seorang perwira tinggi staf umum. Tak lama setelah tersiarnya berita penyerahan tanpa syarat tersebut, banyak orang di Bandung menyaksikan perwira-perwira Belanda melepaskan kekecewaan mereka dengan melemparkan jas seragam militer, baju resmi dengan bintang emas di pinggir-pinggir jalan. Demikianlah Hindia Belanda yang sudah berpuluh-puluh tahun lamanya dikuasai oleh Belanda, dalam waktu beberapa bulan saja hancur dan diambil alih oleh Jepang.

Sumber:

Tuk Setyohadi, Sejarah Perjalanan Bangsa Dari Masa Ke Masa, Bogor: Rajawali, 2002.

Djajusman, Hancurnya Angkatan Perang Hindia Belanda (KNIL), Bandung: Penerbit Angkasa, 1978.

Onghokham, Runtuhnya Hindia Belanda, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1999.

Arifin Bey, Pendudukan Jepang di Indonesia: Suatu Ungkapan Berdasarkan Dokumentasi Pemerintahan Belanda. Jakarta: Kesaint Blanc, 1987.

Nino Oktorino, Konflik Bersejarah – Dalam Cengkeraman Dai Nippon, Jakarta: PT. Elex Media Komputindo, 2013.

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *